Lalu kami pun kembali dalam hening. Meletakkan tas dalam laci. Aku mengamati kawan-kawan baruku. Mereka asing, kelakuannya pun aneh. Seperti tiga orang cewek didepanku. Dua orang duduk membelakangiku dan yang satunya berdiri disamping meja. Cewek yang duduk di sebelah kiri memakai bando merah yang ditengah-tengahnya diikat mirip ikatan tali sepatu. Jika dilihat dari belakang, bentuk kepalanya jadi mirip dengan kado dengan kertas pembungkus hitam lalu ada pita ditengahnya. Sering dia membetulkan bandonya. Menurutku bandonya sama sekali belum bergeser sedikitpun. Cewek yang duduk di sebelah kanan, tepat didepanku, huh... wangi banget. Parfumnya mirip dengan wangi kembang setaman. Jangan-jangan dia semalaman berendam air kembang. Bukannya nyaman, aku malah pusing.Satu lagi, cewek yang berdiri. Yang ini paling banyak ngomong. Wah ada ijo-ijo di giginya, sisa bayem. Ah bukan, itu behel. Ternyata giginya dikurung. Sudah dikurung saja banyak ngomong, apa lagi kalau nggak.
"Erma, kamu tinggal di mana?" pertanyaan Caca membuatku kaget.
"Belakang polsek. Taukan?"
"Searah dong. Kalau rumahku di pertigaan sebelum polsek. Samping soto lamongan," Caca menjelaskan. Oh rumah cat ijo yang pohon mangganya berbuah banyak itu, pikirku. "Eh, aku nanti boleh nebeng nggak? Soalnya aku nanti nggak ada yang jemput," tanya Caca.
"Hm... sepedaku nggak ada boncengannya," aku menunjukkan muka menyesal. "Tapi.... Gini aja, nanti kita pulang bareng. Sepedanya aku tuntun. Kita jalan dari sekolah. Nggak apa-apa kan?" tanyaku ragu.
"Iya nggak apa-apa. Thanks lho,"
Sekolah kali ini nggak terlalu lama. Cuma sampai jam 10 dan itupun hanya diisi dengan perkenalan. Males banget. Tapi nggak dink, lapangan basketnya keren. Indoor. Kantinnya OK juga. Nggak luas sih, tapi bersih. Sempat tadi beli batagor di sana. Nggak terlalu buruk rasanya. Intinya kesan pertama yang aku dapat dari sekolah ini adalah lapangan basket indoor yang keren dan batagor kantin yang lumayan enak, yang lainnya ngebosenin.
"Kamu nunggu di depan dulu ya. Aku ambil sepeda dulu," kataku pada Caca.
"Aku ikut aja ambil sepeda," kata Caca. Dia malah meninggalkan aku.
Ini anak jalannya cepet banget sih. Emang dia tau apa sepedaku yang mana? kataku dalam hati."Pelan-pelan aja jalannya," aku menegur Caca. Dia pun hanya tersenyum lalu memelankan langkah kakinya, menyamai langkahku.
Dalam perjalanan aku dan Caca hanya diam. Aku malah bingung mau ngajak ngobrol apa dengan dia. Caca juga nampaknya asik dengan handphonenya.
"Kamu ini pendiam banget ya?" Caca mulai pembicaraannya.
"Nggak juga," jawabku.
"Nah dari tadi diem aja,"
"Kamu juga dari tadi mainan hape, jadi aku takut ganggu," jawabku sekenanya.
"OK deh aku simpen hapenya," Caca meletakkan hape di sakunya. "Sorry ya jadi ngrepotin gini. Kalau kamu nggak barenga aku, mungkin kamu sudah sampai rumah," Caca tersenyum lebar.
"Ah nggak apa-apa. Santai aja," aku membalas senyumnya.
10 menit dalam perjalanan tidak terasa. Obrolan tentang kami yang mengisinya. Aku ceritakan darimana asalku dan kenapa aku sekolah di SMP itu.
"Aku minta nomor hapemu donk," kataku ketika di depan rumah Caca.
"Sini aku tuliskan,". Aku berikan hapeku kepada Caca. "Udah ni, save ya. Nanti sms. OK?"tambahnya.
"OK. Aku pulang dulu ya," kataku mengakhiri perjumpaan kami hari ini.
Sesampainya di rumah, bergegas aku cari boncengan sepedaku yang dulu sempat dilepas ayah. Di bawah kardus koran ternyata. Lalu aku siapkan obeng untuk memasang boncengannya. Nggak sampai 15 menit, sepedaku sudah ada boncengannya. Agak lucu sih.
"Kok dipasang lagi boncengannya?" tanya ibuku yang rupanya sudah memperhatikankku dari tadi.
"Nggak apa-apa Bun. Lagi pengeng aja," aku langsung melenggang masuk. Aku letakkan tas dan segera ganti pakaian.
"Sms Caca ah,"
"Caca, ini Erma. Eh sepedaku sudah ada boncengannya ni. Jadi kalau besok mau nebeng boleh lho," isi smsku. Lima menit berselang sms Caca masuk. "Ok. no nya aku save ya. Gimana kalau besok pagi kamu ke rumahku dulu? Nebeng lagi. wkwkwkwk" balasan dari Caca. "Wah jadi ojek ni. Tp g apa sih" jawabku.
*BERSAMBUNG*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar