Kamis, 24 November 2011

BUKANNYA AKU TAK MAU

               Beberapa hari yang lalu ketika di sekretariat KACA KR, tiba-tiba Dhita dan Mas Agung bercerita tentang sahabat. Sedikit tertohok aku. Beberapa cerita dari mereka mengembalikan ingatanku kepada sahaba-sahabatku. Dan ketika Mas Agung menanyaiku tentang sahabatku, aku tak bisa bercerita. Hahaha.... akhirnya aku putuskan untuk menulis di blog sajalah. ^-^





              Punya sahabat itu seru. Bisa berbagi cerita, main bareng, usil, dan banyak hal yang mengesankan. Dulu aku pernah merasakan. Hahahaha…. Iya dulu. Kalau sekarang hm… teman-temanku banyak, tapi ketika aku ditanya sahabat, aku jadi bingung. Pengen banget merasakan saat-saat seperti dulu, punya sahabat. Tapi kalau boleh dibilang, aku sedikit trauma dengan yang namanya sahabat. Pengalaman pahitku dengan sahabat-sahabatku dulu, membuatku takut untuk menganggap seseorang menjadi sahabat. 
                Kenapa?
                Mungkin aku harus cerita dari awal aku mempunyai sahabat. Dulu ketika SMP aku punya 3 orang sahabat. Kita sempat membentuk geng dengan nama LIAR, dengan singkatan Lynda(Aku), Iin (Iin Harmina), Ota (Ain Santi Diota) dan Runi (Runi Purwaningsih). Menyenangkan sekali berkawan dengan 3 orang ini. Di awal pubertasku, merekalah yang mengantarkan mengintip dunia remaja. Pergi jauh tanpa ijin pakai motor (mungkin gara-gara mereka aku bisa naik motor), cari muka dengan guru, ngerjain teman yang ulang tahun dan masih banyak lagi. Menyenangkan. Pengalaman baru aku dapatkan dengan mereka.
                Disaat aku mulai jenuh dengan keluarga, mereka ada. Mereka support aku ketika aku di bawah. Kita saling mendukung.  Tapi tak jarang juga kami terjadi konflik. Dan ujung-ujungnya baikkan lagi. Kelas 1 awal, aku berteman dengan Iin dan dipertengahan semester, aku mulai berkawan dengan Runi dan Ota. Kelas 2, kelas kami berbeda. Perbedaan ini yang mungkin membuat kami beberapa kali berantem. Ada satu hal yang aku ingat. Pernah aku, Ota dan Iin bertengkar dengan Runi. Dan untuk memperbaiki hubungan kami, aku, Iin dan Ota berencana memberikan surprise di Ultah Runi. Memberikan kue ulang tahun yang kami hias sendiri, itulah rencananya. Kami membeli roti yang sudah jadi. Lalu dibawa ke sekolah dan kami hias di sekolah. Hanya misis warna warni dan lilin kecil sebagai hiasan. Dan kami pun baikkan lagi. Memang tradisi kami adalah memberikan surprise saat ulang tahun (huhuhu… jadi kangen momen itu)

                Gempa 27 Mei 2006, membuat persahabatan kami berubah. Runi meninggal. Aku mendapatkan kabar ini dari guruku, beberapa hari setelah gempa. Saat mendengar kabar itu, aku bingung menggambarkan perasaanku. Sakit, tidak percaya, marah dengan keadaan atau apalah. 3 tahun pertemanan kami, dan Runi meninggalkan kami.
                Ada beberapa kejadian yang terjadi sebelum dan sesudah Runi meninggal. Kalau tidak salah seminggu sebelum Ujian Nasional, aku dan Runi pergi berdua. Kalau tidak salah harinya Rabu. Kami membeli buku soal-soal UN di Soping dan dilanjutkan jalan-jalan ke Pantai Depok. Hari Rabu dan itu siang, jelas saja pantai sepi. Cuma aku dan Runi. Kami tidak membicarakan apa-apa. Hanya diam, menikmati ombak. Tak lama memang disana, tapi itu menyenangkan. Selanjutnya, hari Rabu juga selesai UN. Aku ngobrol di depan kelas dengan Ota. Dan Runi menyapaku, “Nda… Ayo mulih. Bareng ora?(Nda… Ayo pulang. Bareng tidak?)”. Dan aku menjawab, “Ora (tidak)”.  Aku, Ota dan Runi memang selalu pulang bareng.  Ternyata Runi benar-benar pamit untuk “pulang”.
                Beberapa hari setelah aku meninggalnya Runi, aku begitu rindu dengan dia. Kalau bisa aku gambarkan, rasanya dadaku sesak ketika ingat dengan dia. Dan aku ingat dia itu hampir setiap saat. Aku berdoa kepada Tuhan agar aku dapat bertemu Runi. Sering aku menghayal, Runi datang. Aku sadar Runi sudah meninggal, tapi aku ingin bertemu dia. Sampai pada suatu malam, aku bermimpi bertemu dia. Kami bertemu di lorong sekolah. Kami menggunakan baju seragam biru putih. Aku memandangi runi, dia tersenyum. Dia juga memandangiku dan tiba-tiba memelukku. Erat sekali. Dan di telingaku dia berbisik, “uwis ora kangen to? Aku ora popo kok(sudah tidak kangen kan? Aku tidak apa-apa kok)”. Setelah itu dia melepas pelukannya dan tersenyum padaku. Manis sekali senyumnya. Paginya, rasa kangenku dnegan Runi hilang. Dan beberapa kali setelahnya aku pun bermimpi tentang Runi lagi.
                Ya, Runi sahabatku yang diambil Tuhan. Tapi aku selalu ingat kalimat yang sering dia ucapkan maupun dia tuliskan, “sahabat itu seperti bintang di langit. Kadang dia tak tampak tapi yakinlah dia selalu ada untuk kita”. Sedangkan Iin dan Ain, kami sekarang jarang berhubungan. Beberapa kali kami bertemu di dunia maya, facebook. Jujur, aku kangen mereka. Aku belum menemukan sahabat seperti mereka.
                Lalu kisah yang kedua tentang sahabatku yang lain. Tapi maaf aku tidak bisa menyebutkan namanya.
 Cerita ini terjadi ketika SMA. Di SMA aku menemukan hobi baru, Basket. Awalnya sih memang karena Runi juga. Runi suka basket dan untuk mengenang Runi, aku ikut ekstrakulikuler itu.
Basket, dulu menyita perhatianku. Tidak ada hal yang dapat mengganggu jadwal basketku. Anggotanya menyenangkan. Permainan di lapangan yang menyatukan kami. Kami, teman-teman yang satu angkatan denganku. Awalnya kita banyak, tapi karena seleksi alam jadilah cuma 5 orang. Loyalitas kami dengan basket tidak dapat diragukan. Ngecat lapangan, setiap minggu latihan fisik sampai tanding ke SMA lain.
Kemampuan kami berbeda-beda. Tapi itulah yang membuat kami ada, saling melengkapi. Kami sudah paham, bola-bola yang seperti apa yang diinginkan oleh masing-masing. Bagaimana kami saling membantu dalam lapangan. Mempersiapkan tim sebelum bertanding. Aku merasa menemukan keluarga baru disini. Ada satu orang dari kami yang memang kemampuannya tidak diragukan lagi. Kemampuannya mengontrol bola, memberikan umpan dan kemampuannya menyetak poin. Aku mengaguminya. Dia lincah, gesit dan tak mudah menyerah.
                Sampai pada suatu saat ada pekan olahraga kabupaten (PORKAB). Selesai turnamen, teman yang aku kagumi itu memanggilku. Dia bersama dengan seorang ibu-ibu. Dari obrolan itu aku menangkap, kalau sekolah kami menjadi perwakilan kecamatan dan aku disuruh menjadi leadernya untuk mewakili kecamatan bersama teman satu timku. Sebenarnya yang disuruh adalah temankku itu, tapi dia tak sanggup. Karena ini akhir kelas 3. 3 orang teman seangkatanku sudah menolak karena mau konsentrasi ke UNAS, aku ragu-ragu untuk menerimanya. Tapi temanku itu berjanji untuk membantu. Aku percaya dia. Dan demi persahabatan kami, aku menerimanya.
                Jadwal latihan di kecamatan bertabrakan dengan waktu turnamen kami. Aku dimarahi pelatihku karena megajak kawan-kawan latihan di kecamatan. Tapi di sisi lain, guru olahragaku dan ibu-ibu dari kecamatan itu terus mendesakku. Aku bingung. Beban ujian nasional dan PORKAB. Ditambah lagi, temanku malah berlatih di kecamatan lain. Alasannya adalah dia sudah terlebih dulu latian di kecamatan lain. Dan ketika aku memintanya untuk membantu, dia seolah angkat tangan.


                ANJING!!!!! Aku sakit hati dengan dia. Aku marah. Aku memakinya walau hanya di SMS. Pelatihku memarahiku, guruku terus mendesak dan temanku malah angkat tangan. Aku sudah tidak percaya dengan dia. Seperti tersengat listrik, perasaan bahwa dia sahabatku hilang. Pikiran bodoh melintas, aku keluar dari tim. Aku sudah berniat tidak hadir diturnamen esoknya. Mungkin karena ada malaikat yang membisikiku, aku akhirnya datang. Aku berusaha profesional di lapangan walau diluar lapangan.
                Dua kejadian inilah yang membuat aku takut untuk menganggap seseorang menjadi sahabat. Aku takut ketika aku percaya bahwa dia sahabatku, dia malah pergi. Entah pergi atas kehendak Tuhan atau pergi karena masalah. Yang jelas semuanya itu menyakitkan.
                Tak jarang aku merasa sepi. Ingin curhat ketika galau. Ingin memberikan dan diberi surprise ultah. Yang jelas ingin ada yang mengerti dan paham denganku. Mengingatkanku ketika aku tidak berada di rel yang salah. Memujiku dengan keberhasilan yang aku capai. Aku pun juga ingin memberikan kepercayaanku. Merasa dibutuhkan dalam kehidupan sahabatku.
                Kawan-kawanku sekarang banyak. Mereka unik dan baik. Tapi terkadang terasa hambar. Biasa saja. Sering rasa percaya dan ingin menjadikannya sebagai sahabat itu muncul, tapi entah bagaimana aku aku menolaknya. Aku ingat rasa sakit ketika ditinggal sahabat.
                Tapi aku sangat merasa senang ketika ada kawan yang percaya dan cerita denganku. Curhat apa yang dia rasakan. Menganggap aku ada dan bermanfaat. Tapi aku tetap rindu dengan sosok sahabat yang bisa memegang hatiku.
               
                 Hahahai itulah sedikit cerita tentang masa laluku. Tetap ikuti terus blog ini. Sayngkyu!!!!!!

2 komentar:

WEH! Bags Store mengatakan...

touching indeed :)

Anonim mengatakan...

terharu :')