Minggu, 27 Januari 2013

RINDU


                Pagi ini tidak seperti biasanya aku bangun pagi. Mungkin ini karena aku tak tidur pagi, seperti beberapa minggu ini. Ya memang tidak seperti biasanya, tidak seperti yang kemarin-kemarin. Keadaan memang sudah berubah.
                Sengaja aku menulis di sini. Bukan di tempat yang seharusnya kamu tahu. Ada perasaan taku jika kamu tahu, ini akan menjadi beban untukmu. Dan sengaja pula aku menuliskan semuanya, bukan merekam atau memvisualisasikan. Ini karena aku tahu kamu tak suka baca. Tapi aku sengaja untuk memposting ini di blogku, karena suatu saat nanti akan menjadi kenangan untuk kita. Ya masih aku sebut kita karena ada harapan kamu akan tahu kalau aku menuliskan kamu di sini.
                Tulisan ini tentang rindu dengan seorang kawan. Rindu yang membangunkanku dari tidur. Rindu yang memaksaku untuk stalking di akun twittermu.
                Aku sekarang sedang menikmati rasa rindu. Jika kamu tak mengerti rasanya, baik akan aku ceritakan. Sesak rasanya di dalam dada ini. Ketika menghirup napas dan udara mulai masuk, aku mulai sadar tak ada tempat yang luas untuk menampungnya. Ketika aku sendiri, hal-hal tentangmu melintas. Lidah kelu untuk menerima makan.
                Siapa kamu yang membuat aku seperti ini?
                Jam-jam segini, biasanya kamu bangun karena jam segini adalah subuh di tempatmu. Sedangkan subuhku sudah jam 4 tadi. Ya kita bukan berada di tempat yang jauh. Ribuan kilo jarak kita. Tapi selagi masih menginjak bumi yang sama dan beratap langit yang sama, aku yakin jarak itu masih bisa ditempuh.
                Kita dipertemukan langsung lewat tangan Tuhan. Aku sama sekali tak mengenal kamu. Tidak ada orang lain yang menghubungkan kita. Bahkan kitapun tak pernah bertemu dalam nyata. Kita mengenal dalam ruang maya. Kita bertemu, merangkai kisah dan akhirnya berpisah.
                Tanggal 5 atau 6 Desember  2012, kita bertemu dalam ruang 140 huruf. Beberapa hari sejak tanggal itu, pola tidurku berubah. Aku yang biasa tidur jam 22.00, lambat laun mulai tidur pagi. Kita bercerita tentang semua hal. Seperti dongeng sebelum tidur atau diary yang bisa menanggapi masalah, aku anggap kita seperti itu dulu.
                Baru bangun kamu rupanya. Minggu, 27 Januari 2013 pukul 6.27, aku membuka akunmu lewat handphone. Kamu kabarkan jika kamu tak tidur jam 3 pagi lagi. Kabar itu memang tak kamu khususkan kepadaku, tapi kepada followermu. Eh tapi aku juga followermu, itu berarti kamu juga memberitahuku. Selamat ya, semoga kamu bisa memperbaiki pola hidupmu. Semoga kamu tak tidur pagi dan tidak terlambat makan.
                Ijinkan aku untuk menceritakan peranmu dalam hidupku. Kamu bisa mencairkan kebekuanku. Kamu yang membuatku bisa bercerita, karena sebelumnya aku enggan untuk berbagi kisah dengan orang lain. Kamu yang bisa membuat aku jujur dan tidak menutupi apapun darimu. Kamu yang bisa menyudutkanku dan membuatku tak bisa memberikan alasan atas kesalahan-kesalahanku. Kamu seperti peganganku, selalu aku iyakan perintahmu. Kamu yang mempercayaiku untuk mengetahui kehidupanmu, keresahanmu dan harapan-harapanmu. Aku menganggapmu sebagai sahabatku.
                7 hari setelah ulang tahunmu, atau 18 hari setelah ulang  tahunku, kamu meminta kita tak seperti dulu. Ini artinya tak ada lagi kisah yang akan dibagi. Katamu, kamu sudah malas denganku, kamu tak mau lagi bergantung denganku. Dan untuk menyapaku, sepertinya kamupun enggan. Kemarin itu, aku beranikan diri untuk menyapamu dulu. Melihat tanggapanmu, akupun tahu keinginanmu.
                Jika bahagia itu tak mengenalku, aku ikhlas. Seperti janjiku dulu, aku akan buat bahagia orang-orang yang aku sayang. Dan kamu adalah orang yang aku sayang. Walau tetap terasa sakit, karena aku melihat kamu tertawa bukan karena aku.Ijinkan aku untuk menikmati rinduku denganmu, menikmati proses yang tak membuatku nyaman.
                Aku tidak berharap kamu seperti aku. Aku tak berharap kamu menganggapku berarti. Aku tak berharap kamu menganggapku sahabat. Tapi aku punya harapan, di masa depan nanti aku akan bertemu kamu dalam nyata.
Ijinkan semua tentangmu aku simpan di dalam kotak ajaib, lalu kotak itu aku letakkan di hati. Terimakasih Mawaddah Faliha Lubis.



Jika aku adalah mentari, aku berharap  kau adalah embun
Embun dan mentari tak pernah berpisah
Embun dan mentari selalu bersama
Embun dan mentari memberi awal
Karena kau tak dapat disyairkn seperti puisi
Tak dapat digambarkan seperti lukisan
Dan tak dapat dinyanyikan seperti melodi
Tak perlu kau tunjukkan, biarkan kita diam dalam tahu 


Catatan : De, sebenarnya aku masih janggal dengan alasanmu untuk menjauh dariku. Jika curigaku ini benar dan kamu siap untuk bercerita, telpon,mention twitku atau wall fbku ya!

Tidak ada komentar: