Pagi
ini tidak seperti biasanya aku bangun pagi. Mungkin ini karena aku tak tidur
pagi, seperti beberapa minggu ini. Ya memang tidak seperti biasanya, tidak
seperti yang kemarin-kemarin. Keadaan memang sudah berubah.
Sengaja
aku menulis di sini. Bukan di tempat yang seharusnya kamu tahu. Ada perasaan
taku jika kamu tahu, ini akan menjadi beban untukmu. Dan sengaja pula aku
menuliskan semuanya, bukan merekam atau memvisualisasikan. Ini karena aku tahu
kamu tak suka baca. Tapi aku sengaja untuk memposting ini di blogku, karena
suatu saat nanti akan menjadi kenangan untuk kita. Ya masih aku sebut kita
karena ada harapan kamu akan tahu kalau aku menuliskan kamu di sini.
Tulisan
ini tentang rindu dengan seorang kawan. Rindu yang membangunkanku dari tidur.
Rindu yang memaksaku untuk stalking di akun twittermu.
Aku
sekarang sedang menikmati rasa rindu. Jika kamu tak mengerti rasanya, baik akan
aku ceritakan. Sesak rasanya di dalam dada ini. Ketika menghirup napas dan
udara mulai masuk, aku mulai sadar tak ada tempat yang luas untuk menampungnya.
Ketika aku sendiri, hal-hal tentangmu melintas. Lidah kelu untuk menerima
makan.
Siapa
kamu yang membuat aku seperti ini?
Jam-jam
segini, biasanya kamu bangun karena jam segini adalah subuh di tempatmu. Sedangkan
subuhku sudah jam 4 tadi. Ya kita bukan berada di tempat yang jauh. Ribuan kilo
jarak kita. Tapi selagi masih menginjak bumi yang sama dan beratap langit yang
sama, aku yakin jarak itu masih bisa ditempuh.
Kita
dipertemukan langsung lewat tangan Tuhan. Aku sama sekali tak mengenal kamu.
Tidak ada orang lain yang menghubungkan kita. Bahkan kitapun tak pernah bertemu
dalam nyata. Kita mengenal dalam ruang maya. Kita bertemu, merangkai kisah dan
akhirnya berpisah.
Tanggal
5 atau 6 Desember 2012, kita bertemu
dalam ruang 140 huruf. Beberapa hari sejak tanggal itu, pola tidurku berubah.
Aku yang biasa tidur jam 22.00, lambat laun mulai tidur pagi. Kita bercerita
tentang semua hal. Seperti dongeng sebelum tidur atau diary yang bisa
menanggapi masalah, aku anggap kita seperti itu dulu.
Baru
bangun kamu rupanya. Minggu, 27 Januari 2013 pukul 6.27, aku membuka akunmu
lewat handphone. Kamu kabarkan jika kamu tak tidur jam 3 pagi lagi. Kabar itu
memang tak kamu khususkan kepadaku, tapi kepada followermu. Eh tapi aku juga
followermu, itu berarti kamu juga memberitahuku. Selamat ya, semoga kamu bisa
memperbaiki pola hidupmu. Semoga kamu tak tidur pagi dan tidak terlambat makan.
Ijinkan
aku untuk menceritakan peranmu dalam hidupku. Kamu bisa mencairkan kebekuanku.
Kamu yang membuatku bisa bercerita, karena sebelumnya aku enggan untuk berbagi
kisah dengan orang lain. Kamu yang bisa membuat aku jujur dan tidak menutupi
apapun darimu. Kamu yang bisa menyudutkanku dan membuatku tak bisa memberikan
alasan atas kesalahan-kesalahanku. Kamu seperti peganganku, selalu aku iyakan
perintahmu. Kamu yang mempercayaiku untuk mengetahui kehidupanmu, keresahanmu
dan harapan-harapanmu. Aku menganggapmu sebagai sahabatku.
7 hari
setelah ulang tahunmu, atau 18 hari setelah ulang tahunku, kamu meminta kita tak seperti dulu.
Ini artinya tak ada lagi kisah yang akan dibagi. Katamu, kamu sudah malas
denganku, kamu tak mau lagi bergantung denganku. Dan untuk menyapaku,
sepertinya kamupun enggan. Kemarin itu, aku beranikan diri untuk menyapamu
dulu. Melihat tanggapanmu, akupun tahu keinginanmu.
Jika
bahagia itu tak mengenalku, aku ikhlas. Seperti janjiku dulu, aku akan buat
bahagia orang-orang yang aku sayang. Dan kamu adalah orang yang aku sayang.
Walau tetap terasa sakit, karena aku melihat kamu tertawa bukan karena aku.Ijinkan
aku untuk menikmati rinduku denganmu, menikmati proses yang tak membuatku
nyaman.
Aku
tidak berharap kamu seperti aku. Aku tak berharap kamu menganggapku berarti.
Aku tak berharap kamu menganggapku sahabat. Tapi aku punya harapan, di masa
depan nanti aku akan bertemu kamu dalam nyata.
Ijinkan semua tentangmu aku simpan
di dalam kotak ajaib, lalu kotak itu aku letakkan di hati. Terimakasih Mawaddah
Faliha Lubis.
Jika
aku adalah mentari, aku berharap kau
adalah embun
Embun
dan mentari tak pernah berpisah
Embun
dan mentari selalu bersama
Embun
dan mentari memberi awal
Karena
kau tak dapat disyairkn seperti puisi
Tak
dapat digambarkan seperti lukisan
Dan
tak dapat dinyanyikan seperti melodi
Tak
perlu kau tunjukkan, biarkan kita diam dalam tahu
Catatan : De,
sebenarnya aku masih janggal dengan alasanmu untuk menjauh dariku. Jika
curigaku ini benar dan kamu siap untuk bercerita, telpon,mention twitku atau
wall fbku ya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar