Selasa, 22 Januari 2013

Pembangunan dan Perkembangan Manusia


              Dewasa ini perkembangan pembangunan di Jogja sangatlah pesat. Bukan saja di daerah pusat kota, tapi juga sudah merambah ke daerah pinggiran. Misalnya saja di sepanjang Jalan Parangtritis. Sepuluh tahun belakangan ini, banyak bangunan berdiri. Dulu tanah yang ditanami padi, sekarang beralih menjadi rumah dan gedung. Nampaknya Jogja mulai bergeliat.

                Tahun 1997, usia saya 5 tahun. Masih ingat dibenak saya, setiap sore di samping rumah eyang (di daerah Jalan Parangtritis) pasti ramai dengan anak seusia saya. Kalau tidak bermain lompat tali, gundu, gobak sodor atau petak umpet, kami bermain jamuran. Di tanah lapang yang tidak begitu lebar, senyum anak-anak kecil mengembang. Namun pemandangan seperti itu sekarang sudah jarang saya jumpai. Anak-anak lebih senang di dalam rumah, duduk dan menghadap layar.

muhamadrezapahlevi.blogspot.com
                Banyaknya lahan yang beralih menjadi bangunan membuat anak-anak kehilangan tempat bermain. Ruang gerak anak menjadi terbatas. Selain itu, berpengaruh dengan pola sosialisasi anak. Selain dari dampak teknologi seperti laptop, handphone, video game dan ipad, berkurangnya lahan juga berperan. Memang sekarang ini ada tempat yang sengaja dibuat untuk bermain anak. Tapi tempat ini terkadang tidak bisa dinikmati karena terkendala biaya. 

                Pada usia anak, seorang manusia membutuhkan tempat untuk berkembang secara fisik. Anak yang bergerak dengan leluasa tentu berbeda dengan anak yang hanya bermain dengan elektronik. Perkembangan fisik manusia pada usia anak cepat sekali berubah. 

                Selain perkembangan fisik, juga berkembang kemampuan sosial. Kemampuan sosial akan berkembang baik jika ada proses sosialisasi yang baik pula. Interaksi dengan teman sebaya diperlukan. Dengan teman sebaya bisa mengembangkan kemampuan komunikasi bahkan sampai bermain peran sosial.

                Pembangunan yang tidak memperhatikan adanya ruang terbuka juga mempengaruhi perkembangan masa remaja. Masa remaja mempunyai energi besar. Kita perhatikan, remaja di kota-kota besar sering tawuran. Hal ini kemungkinan energi yang besar tersebut tidak tersalurkan. Energi yang besar pada remaja, bisa disalurkan dengan olahraga atau aktivitas fisik. Namun karena kurangnya lahan sebagai sarana aktivitas fisik, maka energi tersebut beralih pada kegiatan yang negatif. 

Pembangunan sudah selayaknya juga memperhatikan dampak perkembangan manusia. Manusia tumbuh dengan adanya interaksi dengan lingkungan. Perkembangan fisik juga berkaitan dengan gerak. Adanya ruang terbuka yang bisa dimanfaatkan untuk bermain atau aktifitas fisik dirasa perlu. Pembangunan di Jogja pun demikian. Selain mempertimbangkan aspek ekonomi dan keuntungan lainnya, juga perlu diperhatikan dampak sosialnya. Tata ruang yang arif dengan mempertimbangkan segala aspek, sangat dibutuhkan untuk Jogja yang sedang berkembang. Agar masyarakatnya dapat berkembang sebagai manusia, Jogja juga bisa menjadi kota yang berkembang.

Tidak ada komentar: