Dewasa ini
perkembangan pembangunan di Jogja sangatlah pesat. Bukan saja di daerah pusat
kota, tapi juga sudah merambah ke daerah pinggiran. Misalnya saja di sepanjang
Jalan Parangtritis. Sepuluh tahun belakangan ini, banyak bangunan berdiri. Dulu
tanah yang ditanami padi, sekarang beralih menjadi rumah dan gedung. Nampaknya
Jogja mulai bergeliat.
Tahun 1997, usia saya 5 tahun.
Masih ingat dibenak saya, setiap sore di samping rumah eyang (di daerah Jalan
Parangtritis) pasti ramai dengan anak seusia saya. Kalau tidak bermain lompat
tali, gundu, gobak sodor atau petak umpet, kami bermain jamuran. Di tanah
lapang yang tidak begitu lebar, senyum anak-anak kecil mengembang. Namun
pemandangan seperti itu sekarang sudah jarang saya jumpai. Anak-anak lebih
senang di dalam rumah, duduk dan menghadap layar.
![]() |
| muhamadrezapahlevi.blogspot.com |
Banyaknya lahan yang beralih
menjadi bangunan membuat anak-anak kehilangan tempat bermain. Ruang gerak anak
menjadi terbatas. Selain itu, berpengaruh dengan pola sosialisasi anak. Selain
dari dampak teknologi seperti laptop, handphone, video game dan ipad,
berkurangnya lahan juga berperan. Memang sekarang ini ada tempat yang sengaja
dibuat untuk bermain anak. Tapi tempat ini terkadang tidak bisa dinikmati
karena terkendala biaya.
Pada usia anak, seorang manusia
membutuhkan tempat untuk berkembang secara fisik. Anak yang bergerak dengan
leluasa tentu berbeda dengan anak yang hanya bermain dengan elektronik.
Perkembangan fisik manusia pada usia anak cepat sekali berubah.
Selain perkembangan fisik, juga
berkembang kemampuan sosial. Kemampuan sosial akan berkembang baik jika ada proses
sosialisasi yang baik pula. Interaksi dengan teman sebaya diperlukan. Dengan
teman sebaya bisa mengembangkan kemampuan komunikasi bahkan sampai bermain
peran sosial.
Pembangunan yang tidak
memperhatikan adanya ruang terbuka juga mempengaruhi perkembangan masa remaja.
Masa remaja mempunyai energi besar. Kita perhatikan, remaja di kota-kota besar
sering tawuran. Hal ini kemungkinan energi yang besar tersebut tidak
tersalurkan. Energi yang besar pada remaja, bisa disalurkan dengan olahraga
atau aktivitas fisik. Namun karena kurangnya lahan sebagai sarana aktivitas
fisik, maka energi tersebut beralih pada kegiatan yang negatif.
Pembangunan sudah selayaknya juga memperhatikan dampak perkembangan
manusia. Manusia tumbuh dengan adanya interaksi dengan lingkungan. Perkembangan
fisik juga berkaitan dengan gerak. Adanya ruang terbuka yang bisa dimanfaatkan
untuk bermain atau aktifitas fisik dirasa perlu. Pembangunan di Jogja pun
demikian. Selain mempertimbangkan aspek ekonomi dan keuntungan lainnya, juga
perlu diperhatikan dampak sosialnya. Tata ruang yang arif dengan
mempertimbangkan segala aspek, sangat dibutuhkan untuk Jogja yang sedang
berkembang. Agar masyarakatnya dapat berkembang sebagai manusia, Jogja juga
bisa menjadi kota yang berkembang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar