Selasa, 03 Mei 2011

AKU TIDAK MAU MENJADI SPORTER FANATIK

Pernah aku melihat para Bonek, pendukungnya persebaya, duduk diatas kereta api dan truk. Mereka terlihat nyaman, malah sambil bersendagurau. Apa mereka tidak takut ya? Aku saja yang melihatnya sampai merinding. Kalau tidak salah, dulu pernah ada bonek yang jatuh dari kereta api lalu meninggal, setelah melihat pertandingan persebaya di Bandung. Ngeri juga ya.

Aku juga pernah menjadi panitia invitasi sepak bola di kampus. Aku melihat ada beberapa sporter yang mencoba mengganggu jalannya pertandingan dengan menyanyikan yel-yel yang menghina atau malah memaki wasit dan pemain lawan. Kejadian lebih besar mungkin terjadi juga dipertandingan-pertandingan sepak bola profesional. Di TV maupun koran, juga sering diberitakan ada kerusuhan yang bersumber dari sporter. Lagi-lagi aku pikir peristiwa-peristiwa tersebut merupakan wujud fanatisme sporter.



Sporter Indonesia harus berubah.Sekarang bukan eranya untuk bermain otot dan contong. Sporter harus kritis. Kritis untuk memberi masukan, kritis untuk memberi solusi dan kritis untuk mensukseskan persepakbolaan Indonesia. Aku pikir sporter tidak harus berteriak-teriak menyanyikan yel-yel, atau memakai aksesoris yang berlebihan. Tetapi cukup duduk dan menonton.

Menikmati pertandingan, itulah salah satu cara menjadi sporter yang kritis. Biarkan wasit memimpin pertandingan. Lihat para 22 pemain menyuguhkan aksinya. Sambut dengan tepuk tangan ketika bola bersarang di gawang. Bukankah itu lebih nyaman.

Lalu bagaimana jika ada kecurangan pemain?
Kan sudah ada wasit yang memimpin. Biarkanlah wasit yang menentukan. Toh wasit-wasit kita bukan wasit yang tanpa pendidikan, mereka tahu mana yang namanya pelanggaran mana yang tidak.

Tapi kan wasit juga sering salah, bahkan katanya ada yang mau disuap. Lalu bagaimana?
Kita sebagai sporter bisa kok memberi masukan. Tapi yang terpenting adalah percaya pada wasit. Toh sepak bola tidak hanya sebuah kemenangan. Sepak bola adalah seni dan pertunjukan. Kalau hanya mementingkan skor yang dicetak, kenapa tidak langsung pinalti saja? Tidak perlu permainan selama 90 menit.

Sporter juga wajib belajar ikhlas. Ikhlas menerima kekalahan. Sepak bola adalah sebuah permainan. Tentunya harus ada yang kalah. Kalau semuanya menangkan tidak seru. Ketika sporter bisa menikmati pertandingan, mereka bisa menilai sebuah permaianan. Dari pengamatan seorang sporter tentu bisa memberikan masukkan kepada tim yang didukung. Apa kekurangannya, apa kelebihan lawan.

Apa untungnya sih menjadi sporter yang bringas? Yang melampiaskan kekesalannya dengan merusak infastruktur. Apa ketika sporter merusak lalu hasil pertandingan berubah? Atau ketika merusak itu menjadi hebat dan ditakuti? Aku kira tidak ada manfaatnya. Yang ada malah ditangkap polisi, dikejar-kejar warga dan bisa-bisa tidak boleh melihat tim kesayangan bertanding.kasian!!!!!!!!!!!

Hidup ini tidak ada yang gratis bung!!! Hm...dengar-dengar juga bayak sporter yang masuk stadion tanpa ada tiket. Kalau banyak yang seperti itu bagaimana fasilitas stadion meningkat. Kalau seumpama tidak mau bayar, ya nonton saja di TV. Toh lebih nyaman. Mau makan tinggal ambil, mau pipis juga g perlu cari toilet. Intinya sadar diri ya.....heheheh

Makanya mari merubah sporter Indonesia. Dukung tim kesayangan melalui tindakan yang baik. HIDUP SEPAK BOLA INDONESIA!!!!!

Tidak ada komentar: