Rabu, 15 Februari 2012

KAMU


            Sederhana memang hubunganku denganmu, tapi tidak bisa disederhanakan juga. Aku dan kamu akrab. Seakrab mawar dengan duri atau mungkin sedekat WC dengan eek.

“Heh, kau kemana saja? Nggak kelihatan,” kamu kirim pesan singkat ke telpon genggamku.

Aku tidak kemana-mana. Aku bahkan selalu di dekatmu. Aku melihatmu, mendengarmu dan menyentuhmu. Aku tetap di sini. Kamu tak percaya? Yakin sajalah. Atau kalau memang kamu tak bisa menemukanku, anggap saja aku sedang sembunyi. Tak ku balas SMSmu.

Ingatkah kamu dengan kejadian dua minggu lalu? Saat kita bertemu. Ini benar-benar bertemu. Bukan pertemuan imajiner yang sering kita lakukan melalui pesan singkat atau dinding facebook jika tak sempat untuk bertatap muka. Kalau kamu masih ingat, waktu itu aku dan kamu berada dalam satu ruangan. Bahkan duduk bersebelahan. Tapi kita hanya diam, memandang pun tidak. Kamu masih mencariku?

Ah tak usah khawatir begitu. Aku masih di sini lho! Sengaja memang, aku tak membalas pesan singkatmu. Kamu mungkin juga iri karena aku juga tidak membalas pesan yang kamu tulis di dinding facebookku seminggu ini. Padahal aku selalu membalas pesan dari mereka.

*****

“Kamu jahat! Tak pernah membalas pesanku,” pesan singkat darimu lagi setelah 3 minggu aku “bersembunyi”.

            Aku tersenyum lebar. Aku menang darimu yang angkuh. Dan aku bangga karena sejatinya kamu telah berhasil menemukanku.

“Kenapa kamu bilang begitu? Katanya aku malaikatmu. Mana ada malaikat yang jahat J” aku kirim balasan pesan singkatmu.

“Begitu saja kamu menghilang,”

“Menghilang? Kenapa kamu tak melaporkan ke Pak Polisi?”

“Nggak lucu ah kamu. Mungkin kamu tak tahu kalau aku sangat rindu denganmu”

“Aku memeang tidak sedang melucu,”

            Kita pun berSMS ria hingga tengah malam. Tapi lagi-lagi kamu tak sadar bahwa aku telah memelukmu. Memeluk secara imajiner, lalu bercinta.

“Besok malam ngopi yuk!” SMS terakhir darimu yang sengaja tak aku balas.

            Sabar sayang. Biarkan hati kita yang bertemu dulu. Biarkan kedua hati ini akrab kembali di bawah naungan rindu. Bukankah sudah lama hati kita tak saling bicara. Egois dengan kepentingan masing-masing.

            Aku matikan telpon genggamku karena aku tahu kamu pasti akan menelponku. Protes, karena aku tak membalas SMSmu. Dan kuletakkan telpon genggam warna hijau kebiru-biruan itu di sisi kepalaku. Aku tarik selimut,memutuskan untuk berpisah dengan hari ini.

*****

            Aku yakin kamu tidak memperhatikan setiap detil yang terjadi. Kamu tledor, pelupa juga. Tapi dengan pelupamu itu aku merasa kamu butuhkan. Ingat ketika aku harus membuatkan jadwal selama seminggu dan harus sering-sering mengirim pesan singkat mengingatkanmu untuk makan, gara-gara kamu sibuk mengikuti dua kepanitiaan di kampus.

Aku pun juga membutuhkanmu. Katamu aku ini orang yang mudah putus asa. Dan kamu sering memberiku motivasi. Walau terkadang kamu juga terkadang berlebihan menurutku.

Ingatkah kamu ketika kita pergi di warung kopi dua bulan yang lalu? Di meja nomor 3, meja yang banyak coret-coretan mirip meja anak SMA. Kamu pesan white coffe dan kentang goreng, sedangkan aku pesan kopi aminah dan pisang bakar coklat. Kita janjian untuk pake baju yang sama, kemeja biru kotak-kotak. Kamu terlihat lucu dengan kemeja itu, kemeja yang kebesaran untuk ukuran tubuhmu.

Di meja nomor 3, kamu mendesakku untuk bercerita. Oke aku akhirnya bercerita. Cerita tentang mantan pacar, tema yang aku pilih, Aku punya mantan pacar 6. Dan kamu tertawa terbahak-bahak, tak mengira aku punya mantan sebanyak itu. Kamu malah mengiraku berbohong. Apalagi ketika aku bercerita pernah pacaran yang hanya dua jam. Tawamu semakin kencang.

Ingatkah kamu ketika kamu merengek untuk ditemani makan siang di café kesukaanmu? Café yang katamu menyediakan menu paling enak, chiken hot crispy nama makanannya. Kamu juga pesan jus jambu. Makan denganmu sebenarnya menyiksa sekali. Aku tak suka melihat cara makanmu yang pelan dan terkadang akhirnya tak habis. Melihatmu makan membuat aku kenyang dan ikut-ikutan tak habis. Tapi siang itu berbeda, kamu makan dengan lahapnya. Katamu itu karena kamu stres gara-gara habis ujian fisika dasar. Kamu lucu memang.

 Tahukah kamu kalau diam-diam aku mengagumimu? Aku kagum ketika kamu memulai diskusi. Aku suka ketika kamu mulai berargumen, tak ada yang mampu menyangkalnya. Apalagi membahas tentang gender. Selain berargumen, kamu juga pandai menulis. Tulisanmu bagus, bahasanya renyah.

“Aku sudah baca blogmu. Tulisanmu bagus, temanya unik Mr. Happy,” kalimat yang selalu aku ucapkan selesai baca blogmu. Tapi kamu malah marah ketika aku memuji tulisanmu. “Aku tak meminta kamu memuji tulisanku. Aku hanya meminta kamu membaca tulisanku lalu katakan kekurangannya,” katamu ketus.

****

            Seperti janjiku pagi tadi.

“Nanti malam ngopi yuk. Jam 8 aku jemput,” pesan yang aku kirimkan ke telpon genggammu pagi tadi.

“Oke sayang,” balasan darimu.

            Jam 20.17 kita sampai di warung kopi. Agak ramai memang karena ini malam minggu. Banyak pasangan yang datang malam ini, sedangkan aku hanya datang denganmu. Meja nomor 3 kosong. Meja ini sudah tak mirip dengan meja anak SMA lagi. Tulisannya sudah hilang, tapi aku malah merasa ganjil dengan meja ini. Tak seperti biasanya.

            Seorang pelayan berbaju hitam datang. Dia menyodorkan daftar menu. “Silahkan,” pelayan itu tersenyum.

White coffe dan kentang goreng. Kamu?” kamu menanyaiku.

“Kopi aminah,”

            Pelayan itu mencatat pesanan kita. “Mohon ditunggu pesanannya,” kata pelayan itu lalu pergi.

“Aku ke toilet sebentar,” kataku. Dan kamu hanya mengangguk. Sebenarnya aku tidak ke toilet. Aku ke kasir.

            Aku kembali dengan sebatang rokok putih rasa mild di mulutku yang aku beli di kasir. Aku kembali ke posisi dudukku tadi. Di depanmu. Kamu tak bisa menyembunyikan ketidaksukaanmu.

“Boleh merokok, tapi asapnya ditelan lagi ya,” katamu dengan ekspresi datar.

            Bertemu denganmu membuatku lemah. Aku matikan rokok yang baru habis setengah. Dan kita kembali diam.

            Hujan mulai turun. Awalnya hanya gerimis, lalu menjadi besar. Tapi kita tetap diam. Pelayan yang tadi menyodorkan daftar menu, datang lagi. Dia membawa pesanan kita, yang buru-buru dia letakkan di meja. “Silahkan menikmati,” kata pelayan itu.

            Aku angkat gelas di depanku. Aku ciumi asapnya lalu menyruputnya sedikit. Aroma dan rasa kopi aminah memang mantab.

“Kamu apa kabar?” pertanyaan aneh yang kamu katakan. Jelas aku baik-baik saja.

“Baik,” jawabku

“Kamu kenapa menghilang akhir-akhir ini?” tanyamu lagi.

“Biar kamu terbiasa,”

“Maksudmu?”

“Kamu ingat kan kalau aku pernah mendaftar beasiswa ke Malaysia? Aku diterima dan besok siang aku 
berangkat. Aku 4 tahun di sana,” kataku. Aku tak berani menatap matamu.

“Oh! selamat,”

            Kembali diam. Hingga hidangan di meja habis dan hujan reda, kita tetap diam. Sesekali aku melirikmu. Ekspresimu datar. Aku tak bisa menebak apa yang kamu pikirkan. Dan aku merasakan sakit. Dadaku seperti tersayat. Perih dan ngilu.

“Ayo pulang,” ajakku. Dan kamu menurut begitu saja. Berbeda dengan biasanya yang kamu enggan diajak pulang karena ingin menikmati malam sampai pagi.

            Di jalan pun kamu hanya diam. Begitu kaku dan dingin. Membuat jalan ke rumahmu begitu jauh.
“Kamu marah?” kataku di depan pagar rumahmu. Kamu menatapku. Kulihat mata yang berkaca-kaca. Lalu air mata itu meleleh.

Aku hampiri kamu. Aku usap air mata itu. Kamu tahu kan kalau aku tak suka melihatmu menangis?

“Kok nangis sih?”

Kamu memelukku. Semakin kencang kamu menangis.

“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu akan ke Malaysia? Kenapa kamu baru bilang sekarang?” semakin erat kamu memelukku.

“Karena aku tak tahu bagaimana mengucapkannya,” akhirnya benteng pertahananku runtuh. Aku pun menangis.

Kita berpelukkan lama. Kamu memelukku erat hingga dadaku sesak.

“Kamu lihat bintang-bintang itu,” aku melepaskan pelukanmu dan menunjuk sebuah bintang. “Tadi ketika hujan, bintang-bintang itu tak kelihatan. Tapi bintang-bintang itu sekarang muncul lagi,” tangismu mulai reda.

“Persahabatan kita itu seperti bintang di langit. Terkadang bintang itu tak terlihat, tapi yakinlah jika bintang itu ada,” aku usap mata sembammu.

“Sekarang kamu masuk. Cepat tidur dan besok wajib bangun pagi. Karena kamu harus bantu aku bawa koper ke bandara,” kataku.

“Kamu jahat tapi aku sayang kamu,” katamu masih sesenggukan sambil memelukku dan cepat-cepat kamu lari masuk rumah.

Dasar kamu. Dan aku pulang, menantimu untuk besok pagi. Aku sudah mempersiapkan sebuah buku untukmu. Buku yang kamu inginkan di pameran buku setahun yang lalu. Aku menantimu datang besok pagi.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

many 'person' in one character dan jujur :)

facetopes mengatakan...

heheheh adek pinter deh. semoga "mereka" mengerti apa yg ingin aku sampaikan.